DJ Nino: Kerjaan DJ Nggak Cuman Hepi-Hepi

Diposting pada

Bagi sebagian orang Indonesia, istilah Disc Jockey atau DJ mungkin akan berkonotasi pada kehidupan malam yang glamor, hedonis, pesta, maupun hura-hura. Namun belakangan ini, dengan semakin populernya musik elektronik atau lagu DJ yang dipadukan dengan nyanyian, keberadaan DJ tak hanya di club atau tempat hiburan malam saja. DJ bisa juga tampil di panggung terbuka layaknya band, dan bahkan sebagai sarana hiburan di sekolah. DJ jadi semacam tren masa kini. Semua orang jadi pengin belajar DJ. Dari yang sekedar penasaran, iseng, sampai yang ingin benar-benar menjadikannya sebagai sebuah profesi. Namun benarkah menjadi DJ itu mudah dan menyenangkan?

Menurut DJ Nino, yang sudah sejak 1997 terjun ke dunia DJ profesional, kadang anak muda sekarang melihat kerjaan DJ itu enak, kerjanya cuma hepi-hepi. Sebenarnya tidak seperti itu. Pekerjaan DJ juga perlu disikapi dengan profesional. Artinya profesional dari bersikap, dan juga dari cara bekerja. Untuk menjadi DJ profesional tidak kalah beratnya dengan pekerjaan-pekerjaan lain. DJ Nino menyoroti dengan banyaknya DJ baru yang muncul, namun segera tumbang. Itu mungkin karena mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi profesional, atau mungkin meskipun mereka tahu bagaimana caranya menjadi profesional, tapi tidak mau melakukan hal-hal profesional.

“Kalau memang mau jadi DJ, tips saya cuman satu, berlakulah seperti seorang DJ profesional. Makanya kamu akan jadi profesional. Lakukan semua pekerjaanmu dengan profesional, maka kamu akan dianggap profesional. Kalau enggak, ya nggak akan. Akhirnya embel-embel DJ artinya dia bukan DJ profesional, tapi dia bisa nge-DJ. Itu beda,” tegas DJ yang baru saja merayakan ulang tahunnya pada 17 September ini.

Prinsip profesional ini selalu ditekankan DJ Nino pada setiap muridnya di RED DJ School Semarang. Di sekolah yang didirikannya sejak tahun 2011, DJ Nino tidak hanya mengajari murid-muridnya yang sudah mencapai lebih dari 200 orang ini tentang skill bermain DJ, tapi juga mendorong mereka untuk memiliki sikap profesional. Tak heran banyak club dan even yang mengundang alumni sekolah ini untuk tampil di acara-acara mereka. Maka untuk mendukung profesionalitas pekerjaan DJ ini, DJ Nino mendorong para alumni sekolahnya untuk membentuk label atau manajemen sendiri. Pada mulanya RED DJ memang melayani permintaan even, namun DJ Nino mengalami kesulitan karena dalam sebulan hanya bisa memenuhi rata-rata 8 even, yang dia bagikan ke 8 murid-muridnya. Akan sangat sayang sekali bila lulusan sekolahnya yang sudah belajar tidak tersalurkan. Karena itu, orang kini mengenal manajemen DJ seperti: Spin8, Rival, Maestro Production, dan lain sebagainya.

“Untuk manajemen/label saya mulai munculkan tahun 2014 ini. Asalnya kan kita pake RED DJ aja, tapi semakin banyak, kan kasihan. Contohnya murid ada 200 orang. Sebulan saya kasih event maksimal/rata-rata di sekitar 8 orang. Kalau saya memimpin 200 orang dengan 1 label. 1 label maksimal hanya 8 event, maka orang ke 200 akan ada di tahun akhir ke-2. Tapi apabila ada 1 label, 1 label 8 kali even. Saya akan memotivasi anak baru yang belum ada label untuk bikin label yang baru lagi. Supaya kita ada banyak bendera,” ujar DJ Nino.

Sehubungan dengan hal itu, RED DJ School kini lebih terfokus untuk menjadi sekolah DJ, Studio DJ, dan DJ Shop. Bahkan RED DJ adalah dealer resmi produk-produk DJ merek Pioneer. Selain DJ Nino sendiri yang menjadi pengajar, terdapat juga profesional DJ seperti Trias dari EP DJ, kemudian Diskomafia, yang merupakan lulusan sekolah DJ Positiva Jogja tahun 2002. Terdapat dua paket pendidikan yang ditawarkan sekolah ini, yang pertama: Basic & Club Mixing, serta tingkat lanjutnya adalah: Scratch & DJ Battle. Murid dari RED DJ School ini beragam usianya. Dari kelas 6 SD, hingga yang sudah pensiun. DJ Nino tidak membatasi semua orang yang ingin belajar DJ.

“Nggak ada. Prinsip belajar nggak ada batasan waktu. Yang penting udah bisa baca tulis, udah bisa ngikutin beat. Saya bilang sih anak kelas 6 SD sudah bisa. Murid kita dari 6 SD sampai pensiunan juga ada. Kalau pensiunan sebenernya sekedar hobi, sekedar ingin tahu. Karena masa mudanya sebenernya pengin tapi nggak ada kesempatan. Kalau anak-anak kecil itu untuk ngisi kegiatan positif,” ujarnya.

Gambar Gravatar
Tempat Nongkrong Paling Kreatif, Ngetren, & Informatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *